Media di Persimpangan: Ketika Idealisme Tak Cukup Membayar Gaji

- Penulis

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Opini: Agus Sulistriyono – CEO Promedia Group

TRANSJATIM.Com – Ada satu kenyataan yang mungkin tidak nyaman untuk dibicarakan di kalangan pers: idealisme itu penting, tetapi idealisme saja tidak cukup untuk membayar gaji. Kalimat ini mungkin terdengar pragmatis. Bahkan bisa dianggap terlalu bisnis. Tetapi justru karena saya percaya pada jurnalisme, persoalan ini harus dibicarakan secara terbuka.

Wartawan harus digaji. Editor harus digaji. Kantor, teknologi, server, liputan, perjalanan, semuanya membutuhkan biaya. Pers membutuhkan idealisme untuk tetap dipercaya. Tetapi perusahaan pers membutuhkan bisnis untuk tetap hidup.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Persoalan saat ini, lanskap bisnis media berubah begitu cepat. Dulu, ketika orang membutuhkan informasi, media menjadi tujuan utama. Ketika perusahaan ingin menjangkau publik, media menjadi salah satu pintu utama. Audiens ada di media, maka iklan pun datang ke media.

Hari ini, situasinya berbeda. Perhatian publik sudah tersebar ke mana-mana. Ada TikTok, Instagram, YouTube, podcast, influencer, KOL, content creator, streamer, akun komunitas, dan entah apa lagi yang akan lahir setelah ini.

Semuanya memperebutkan satu komoditas yang sama: perhatian manusia (attention). Dan ke mana perhatian pergi, uang biasanya mengikuti. Anggaran komunikasi perusahaan yang dulu banyak mengalir ke media kini harus berbagi dengan influencer, KOL, creator, digital agency, platform social media, marketplace hingga live commerce.

Kue ekonominya tidak hilang. Kuenya berpindah meja. Ironisnya, ketika ekosistem media semakin besar, banyak perusahaan pers justru semakin kecil. Redaksi yang dahulu berisi ratusan orang menyusut jadi puluhan orang. Bahkan semakin banyak media yang bertahan hanya dengan tiga sampai lima orang.

Bukan karena mereka tiba-tiba kehilangan idealisme. Sering kali persoalannya sederhana: pendapatannya tidak lagi sanggup menopang struktur biaya lama. Di sinilah menurut saya kita perlu membedakan antara media dan perusahaan pers. Media sebenarnya tidak sedang mati. Justru sebaliknya, media sedang meledak.

Hari ini hampir setiap orang bisa menjadi media. Satu orang dengan smartphone dapat memproduksi informasi, membangun audiens jutaan orang, memengaruhi keputusan publik, bahkan menghasilkan pendapatan yang mungkin lebih besar daripada sebuah perusahaan pers dengan belasan karyawan.

Kita boleh menyebut mereka influencer, KOL, YouTuber, TikToker, podcaster atau content creator. Tetapi secara fungsi, mereka melakukan sebagian pekerjaan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan media: memproduksi pesan, mendistribusikannya, membangun audiens dan memengaruhi publik.

Tentu pers berbeda. Jurnalisme mempunyai verifikasi, kode etik, tanggung jawab dan disiplin profesi. Nilai-nilai itu tidak boleh dibuang hanya karena zaman berubah. Justru di situlah kekuatan pers. Tetapi industri pers juga jangan terjebak merasa paling berhak disebut media.

Masyarakat ketika membuka TikTok atau YouTube tidak selalu bertanya apakah sebuah informasi dibuat oleh perusahaan pers atau seorang creator. Mereka lebih sering bertanya: menarik atau tidak, berguna atau tidak, dan yang paling penting, bisa dipercaya atau tidak. Maka pertarungan media hari ini bukan lagi semata-mata soal siapa paling cepat membuat berita.

Pertarungannya adalah attention dan trust. Creator sering unggul dalam attention. Pers seharusnya unggul dalam trust. Kalau dua kekuatan itu bisa dipertemukan, justru di situlah masa depan media. Karena itu saya tidak melihat creator sebagai musuh wartawan. Saya juga tidak melihat media sosial sebagai musuh perusahaan pers.

Yang harus berubah adalah cara kita melihat industri ini. Wartawan masa depan mungkin tidak cukup hanya pandai menulis. Ia harus mampu membuat video, berbicara di depan kamera, memahami algoritma, membangun komunitas dan memiliki audiensnya sendiri. Tetapi ia membawa sesuatu yang tidak boleh hilang: disiplin jurnalistik.

Sebaliknya, perusahaan pers tidak bisa selamanya menggantungkan hidup pada traffic website dan banner advertising. Ia harus mulai membangun ekosistem: publisher, creator, video, podcast, komunitas, event, social media, live commerce, creative services, data, bahkan berbagai model transaksi baru.

Bukan berarti pers berubah menjadi pedagang. Justru bisnis yang sehat diperlukan agar redaksi tidak selalu hidup dalam ketergantungan. Kita juga harus berhenti menganggap bisnis sebagai kata kotor dalam dunia pers. Media yang tidak mempunyai bisnis yang sehat justru lebih mudah kehilangan independensinya.

Ketika pendapatan tidak cukup, selalu ada risiko bergantung kepada pemilik modal, pemerintah, pengiklan, kepentingan politik atau siapa pun yang bersedia membiayainya. Karena itu idealisme dan bisnis seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua musuh yang saling berhadapan.

Idealisme menghasilkan sesuatu yang sangat mahal dalam industri media: kepercayaan. Kepercayaan melahirkan audiens. Audiens melahirkan pengaruh. Dan pengaruh sebenarnya mempunyai nilai ekonomi. Masalahnya, banyak media belum berhasil mengubah rantai tersebut menjadi model bisnis yang sehat.

Jadi mungkin yang gagal bukan idealismenya. Yang gagal adalah model bisnis yang belum mampu mengubah kepercayaan menjadi keberlanjutan. Inilah persimpangan media hari ini. Kita tidak perlu mengurangi idealisme agar bisnis tumbuh. Tetapi kita juga tidak bisa terus meneriakkan idealisme sambil membiarkan perusahaan pers perlahan-lahan kehabisan napas.

Sebab pada akhirnya wartawan tetap harus membawa pulang gaji. Perusahaan tetap harus membayar tagihan. Dan jurnalisme berkualitas tetap membutuhkan biaya. Masa depan pers karena itu bukan memilih antara idealisme atau bisnis.

Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana membuat idealisme menjadi fondasi bisnis yang berkelanjutan, tanpa pernah menjual idealismenya.

Editor : Liamsan

Sumber Berita: Pro media

Follow WhatsApp Channel transjatim.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Viral Rekaman CCTV Wanita Ditendang Pria dari Belakang di Mal Jakpus, Korban Antre Berdiri di Gerai Bakso
Update Kasus Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda: Sisir Lokasi Dihentikan usai 10 Hari Pencarian
Pengukuhan Pengurus Jurnalis Sumenep Independen (JSI) Kabupaten
Harapan Warga Pontianak saat Hujan Deras Akhirnya Turun: Semoga Menghilangkan Asap Selamanya
Kelakar Purbaya Usai Tak Lagi Jabat Menkeu: Mancing Ikan hingga Mengaku Happy
Lingkaran Setan Kejahatan Korporasi Kehutanan dan Bencana Ekologis: Eko Gagak Angkat Suara
Viral Dugaan Ritual Satanik dalam Pertunjukan Karnaval di Pekalongan saat Peringati Maulid Nabi, MUI Buka Suara
Foto Tumpukan Uang Gegerkan Pilkades Cipayung, Panitia Tunggu Laporan Masyarakat
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 20:50 WIB

Viral Rekaman CCTV Wanita Ditendang Pria dari Belakang di Mal Jakpus, Korban Antre Berdiri di Gerai Bakso

Kamis, 17 September 2026 - 20:23 WIB

Update Kasus Hilangnya 5 Jurnalis di Selat Sunda: Sisir Lokasi Dihentikan usai 10 Hari Pencarian

Selasa, 15 September 2026 - 20:53 WIB

Pengukuhan Pengurus Jurnalis Sumenep Independen (JSI) Kabupaten

Selasa, 15 September 2026 - 18:56 WIB

Harapan Warga Pontianak saat Hujan Deras Akhirnya Turun: Semoga Menghilangkan Asap Selamanya

Selasa, 15 September 2026 - 16:58 WIB

Kelakar Purbaya Usai Tak Lagi Jabat Menkeu: Mancing Ikan hingga Mengaku Happy

Berita Terbaru